Sabtu, 11 Juli 2009

TEKNIK PEMBENIHAN KERAPU BEBEK (Cromileptes altivelis) DI BALAI BESAR PENGEMBANGAN BUDIDAYA AIR PAYAU JEPARA,
JAWA TENGAH


R u s t a m


ABSTRAK

Tujuan dari Praktek Kerja Lapang ini adalah untuk mengetahui secara langsung dan untuk mendapatkan keterampilan serta pengalaman kerja di lapangan. Khususnya mengenai teknik pembenihan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara, Jawa Tengah. Pelaksanaan praktek kerja lapang dilaksanakan dengan metode deskriptif. Pengambilan data pada praktek kerja lapang ini meliputi data primer dan data sekunder. Induk kerapu bebek diperoleh dari hasil tangakapan nelayan Karimun Jawa. Jumlah induk 40 ekor, jantan 17 ekor dan betina 23 ekor dengan berat rata-rata 1-1,7 kg/ekor. Bak pemeliharaan dan pemijahan induk berbentuk bulat dengan kapsitas 80 ton. Pemijahan induk kerapu bebek yang dilakukan menggunakan teknik rangsangan lingkungan, dan induk kerapu bebek memijah pada awal bulan gelap sampai bulan baru. Bak pendederan berukuran 2,5 m x 1,5 m x 0,75 m. Pakan alami yang dibudidayakan adalah Spirulina sp, Chlorela sp, dan Rotifera. Kata Kunci : Kerapu Bebek, Teknik Pembenihan


SEEDING TECHNIC 0F DUCK GROUPER (Cromileptes altivelis) IN THE CENTRAL BRACKISH WATER DEVELOPMEN (BBPBAP) JEPARA,
CENTRAL JAVA


ABSTRACT

The aim of spacious job practice is to know directly and to gain some skills and experiences in field, especially on duck grouper (Cromileptes altivelis) seeding technic in the central brackish water development (BBPBAP) Jepara, central Java. It conducted with descriptive method. The obtained data is primary data and secondary data. Duck grouper mains obtained from Karimun Jawa fishermans. Mains of amount 40 fishes, male 17 fishes and female 23 mean weighing 1-1,7 kg/fishes. The form basin conservancy and spawning of mains is globular with 80 ton capacities. The spawning mains of duck grouper are using stimulating environmental technic, they spawn on dead moon until he beginning of a new moon. The size of seeding basin is 2,5 m x 1,5 m x 0,75 m. the which conducting natural feed is Spirulina sp, Chlorela sp, and Rotifera.
Key Words : Duck grouper, Seeding technic


1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perikanan dan kelautan merupakan salah satu faktor pembangunan di Indonesia yang sangat potensial sebagai devisa Negara. Pengembangan budidaya laut di Indonesia untuk waktu yang akan datang adalah sangat penting bagi pembangunan sub sektor perikanan, serta merupakan salah saru perioritas yang diharapkan menjadi sub pertumbuhan dari sub sektor perikanan (Akbar dan Sudaryanto, 2002). Pemanfaatan sumberdaya perikanan belum sepenuhnya diupayakan dikarenakan sumberdaya manusianya itu sendiri kurang begitu menyadari atau memahami dalam hal pemanfaatan sumberdaya perikanan itu sendiri secara optimal. Pemanfaatan sumberdaya perikanan secara optimal menuntut tersedianya tenaga yang professional pada tingkat menengah maupun tingkat tinggi. Penyediaan tenaga professional tingkat tinggi lebih banyak dihasilkan oleh perguruan tinggi perikanan sedangkan penyediaan tinggkat menengah dihasilkan oleh sekolah-sekolah kejuruan yang jumlahnya di Indonesia hanya sedikit yeng memiliki jurusan budidaya perikianan hal inilah yang menjadi titik lemah dalam pembangunan perikanan di Indonesia (Cahyaningsih, 2002). Ikan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) merupakan salah satu jenis ikan laut yang mempunyai nilai ekonomis tinggi baik dipasaran lokal maupun dipasaran internasional. Ikan ini merupakan salah satu jenis ikan karnivora yang mempunyai kebiasaan hidup didaerah perairan berkarang, diantara celah-celah karang atau didalam gua didasar perairan. Penyebaran ikan kerapu hampir diseluruh wilayah Indonesia, diantara Pulau Sumatra, Jawa, Kepulauan Riau, Kepulauan Seribu, Pulau Buru, Ambon dan Kepulauan Karimun Jawa (Segama, 2001). Teknik pembenihan ikan kerapu merupakan upaya pengadaan benih bagi pelestarian populasi dialam melalui restocking dan pengembangan budidaya perikanan. Kendala yang dihadapi dalam upaya pembenihan ikan kerapu adalah terbatasnya informasi dasar, karena sampai saat ini penelitian penelitian mengenai pematangan dan pemijahan induk kerapu belum banyak dilakukan (Tridjoko, et al., 1996).

1.2 Tujuan
Adapun tujuan praktek kerja lapangan ini adalah mendapat pengalaman yang nyata secara langsung dilapangan (industri) sehingga lebih berkompeten, menambah ilmu pengetahuan khusunya dibidang perikanan, mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang didapat selama perkuliahan, dan untuk memenuhi persyaratan Akademik.

1.3 Waktu dan Tempat
Praktek kerja lapang dilaksanakan pada tanggal 03 Maret sampai dengan 01 Agustus 2006 di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Jawa Tengah.

2. METODE DAN TEKNIK PENGAMBILAN DATA
Pelaksanaan praktek kerja lapang ini dilakukan dengan metode deskriptif yaitu metode yang membicarakan beberapa kemungkinan untuk memecahkan masalah dengan jalan mengumpulkan data, menyusun atau mengklasifikasikannya, menganalisa dan menginterprestasikannya (Surakhmad, 1985). Pengambilan data pada praktek kerja lapang ini meliputi data primer (partisipasi), wawancara, observasi dan data sekunder. Data sekunder diperoleh melalui pencatatan data dan laporan dari berbagai instansi terkait.

3. HASIL PRAKTEK KERJA LAPANG
3.1 Keadaan Umum Lokasi Praktek Kerja Lapang
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara terletak di Desa Bulu, Kecamatan Jepara, Kabupaten Jepara Jawa Tengah. Lokasi ini berjarak sekitar 2 Km dari kota Jepara dan bersebelahan denga Pntai Kartini. Pantai di sekitar BBPBAP Jepara merupakan perairan karang dengan salinitas sekitar antara 28–32 ppt dan suhu udara berkisar antara 20-30 0C dengan ketinggian 0-0,5 diatas permukaan laut. Pantai ini relatif datar sehingga tepat sebagai tempat PKL, magang, dan penilitian budidaya air payau. Denagn luas lahan yang dimiliki sekitar 59,5 ha. Lahan seluas 5,5 ha digunakan untuk sarana gedung perkantoran, perpustakaan, dan labolatorium sedangkan lahan seluas 54 ha lainnya digunakan sebagai lokasi pertambakan.

3.1.1 Sejarah Berdirinya BBPBAP Jepara
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara selama perkembangannya sejak didirikan mengalami beberapa kali perubahan status dan hierarki. Pada awal berdirinya tahun 1971 lembaga ini diberi nama Reserich Center Udang (RCU) yang berpusat di Bogor dan secara hierarki berada di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Departemen Pertanian. Sasaran utama lembaga ini adalah meneliti siklus udang dari telur hingga dewasa secara terkendali dan dapat dibudidayakan di lingkungan tambak. Untuk operasional penelitian dimulai pada awal tahun 1973 dengan menggunakan fasilitas yang sebagian telah tersedia. Peresmian lembaga pusat penelitian udang ini dilakukan oleh menteri Pertanian Republik Indonesia prof. Ir. Thoyib Hadiwijaya pada tanggal 29 Juli 1974.
Pada tahun 1977 dilakukan reorganisasi dan lembaga penelitian tersebut berganti namanya menjadi suatu balai dengan nama Balai Budidaya Air Payau (BBAP), dimana secara struktural berada dibawah Direktorat Jendral Perikanan, Departemen Pertanian. Pada periode ini, jenis komoditas yang dikembangkan selain jenis Udang juga ikan bersirip, Echinodermata dan Moluska air. Momentum yang menjadi pendorong bagi perkembangan industri udang secara nasional berawal dari keberhasilan yang diraih BBAP dalam produksi benih udang secara masal. Pada saat itu diawali dengan diterapkannya teknik pematangan gonad dengan cara ablasi mata, sehingga salah satu kendala dalam penyediaan induk matang telur sudah mulai dapat teratasi. Berdasarkan pada surat keputusan Menteri Pertanian No. 06/ Kpts / org /5/1978 maka Balai Budidaya Air Payau Jepara ditetapkan sebagai salah satu Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jendral Perikanan. Pada tahun 2000 setelah terbentuknya Departemen Eksplorasi Laut dan Perikanan, keberadaan BBAP masih dibawah Direktorat Jendral Pertanian. Selanjutnya pada bulan Mei 2001 status BBAP ditingkatkan menjadi eselon II dengan nama Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau yang berada dibawah Direktorat Jendral perikanan budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan.

3.1.2 Organisasi dan Tata Terja.
Dalam keorganisasian BBPBAP Jepara dipimpin oleh Kepala Balai yang dalam kerjanya dibantu oleh kepala Sub Bagian Tata Usaha, Kepala Seksi Pelayanan Teknis dan Informasi, Kepala Seksi Sarana Teknik dan Kelompok Pejabat Fungsional. Untuk mempermudah koordinasi dan memperlancar pelaksanaan kegiatan sesuai dengan SK keputusan Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. No. 01.301/X.491/2002 tanggal 1 Oktober 2002 dibentuk kelompok kegiatan perekayasaan sebagai berikut :

- Kelompok kegiatan pembenihan Fin Fish.
- Kelompok kegiatan pembenihan non Fin Fish.
- Kelompok kegiatan pembesaran Fin Fish.
- Kelompok pembesaran non Fin Fish.
- Kelompok kegiatan pembesaran pakan alami.
- Kelompok kegiatan pakan buatan.
- Kelompok kegiatan manajemen kesehatan hewan aquatic .
- Kelompok kegiatan pengendalian lingkungan.

3.1.3Sarana dan Prasarana
Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara dilengkapi dengan berbagai sarana dan prasarana serta sarana penunjang. Dimana Sarana dan prasarana yang dimiliki Balai Besar Pengambangan Budidaya Air Payau Jepara sampai tahun 2004 antara lain:

a. Laboraturium
Laboratorium merupakan salah satu sarana dalam membantu operasional usaha budidaya. Beberapa Laboratorium yang ada di BBPBAP Jepara antara lain:
- Laboratorium pakan alami
- Laboratorium fisika-kimia
- Laboratorium hama dan penyakit ikan dan udang
- Laboratorium nutrisi dan pakan
- Laboratorium manajemen kesehatan hewan aquatik

b. Sarana Transportasi
Alat transportasi yang digunakan guna memperlancar kegiatan operasional di BBPBAP Jepara berupa mobil dinas dan bus yang semuanya dalan keadaan baik. Untuk rincian sarana transportasi yang dimiliki BBPBAP Jepara antara lain: 1 buah kendaraan roda 2,6 buah kendaraan roda 4 dan 4 buah kendaraan roda 6 yang keseluruhanya dalam keadaan layak, walaupun rata-rata usia pemakaian sudah lebih 5 tahun.

c. Jaringan listrik
Di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara pembangkit listrik yang digunakan bersumber dari jaringan Pembangkit Listrik Negara (PLN) cabang Jepara. Dimana daya yang terpasang adalah 147 KVA dan 197 KVA dengan panjang jaringan 5000 m, 6 buah Genset masing-masing dengan daya 150 KVA (2 buah), 100 KVA (1 buah dalam keadaan rusak), 80 KVA (1 buah dalam keadaan rusak ringan), 250 KVA (1 buah), dan 125 KVA (1 buah) yang digunakan untuk menanggulangi sewaktu-waktu aliran listrik PLN mengalami gangguan atau padam.

d. Penyediaan Air Tawar dan Air Laut
Sumber air yang digunakan BBPBAP Jepara adalah air laut dan air tawar. Untuk mendapatkan air laut bersih BBPBAP menggunakan sistem penyaringan dengan saringan pasir (Sand filter). Air laut diambil sejauh 580 meter dari garis pantai dengan pompa dan dilewatkan terlebih dahulu melalui saringan pasir. Tangki saringan terbuat dari beton ukuran 6x2x2 meter. Susunan dari saringan tersebut berturut-turut adalah pasir, ijuk dan kerikil. Air saringan dialirkan dengan menggunakan pompa ke bak tandon terbuat dari beton berbentuk bulat berdiameter 10 m dan kedalaman 3 m. Air yang berada ditandon kemudian diendapkan lalu disaring dan kemudian air siap dipakai dengan cara menyalakan pompa air.
Selain itu untuk mendapatkan air laut yang bersih BBPBAP juga menggunakan saringan raksasa (Giat Filter), yaitu saringan yang ditempatkan dipantai, ditanam vertikal pada tanah dipinggir perairan laut. Tanah dibor sedalam 4 meter pada lokasi yang masih terendam air saat pasang surut. Pipa paralon ukuran 4,0 inchi yang disebut pipa luar berlubang-lubang ditanamkan dan didalamnya terdapat pipa ukuran 2,5 inchi yang berfungsi sebagai jalur air. Air laut mengalir melalui pipa luar dan telah tersaring dengan tanah dasar kemudian mengalir ke pipa dalam. Antara pipa luar dan pipa dalam diberi ijuk yang berfungsi menahan pasir agar tidak masuk ke pipa dalam. Dengan sistem ini air langsung dipakai tanpa melaui saringan lagi. Selain sumber air yang berasal dari laut BBPBAP juga menggunakan air tawar yang di peroleh dari sumur yang diambil dengan menggunakan pompa air kemudian ditampung dalam tandon setinggi 10 m, sehingga air mengalir ke berbagai unit bak dengan sistem gravirtasi. BBPBAP Jepara memiliki jaringan air tawar dalam komplek pembenihan, perkantoran sepanjang 1000 m yang dilengkapi dengan tandon air dan pompa.

e. Hatchery
- Hatchery udang
Hatchery udang dikelompokan menjadi dua yaitu: indoor hatchery dan outdoor hatchery dimana indoor hatchery terdiri dari 16 buah bak larva 4 buah bak induk dan 1 buah bak penampungan air. Sedangkan pada bagian outdoor hatchery udang terapat 10 buah bak larva udang windu, 2 buah bak induk, 6 buah bak larva udang galah, 10 buah bak tokolan udang windu, 4 buah bak penampungan air, 6 buah mini hatchery, 1 buah tower dan 5 buah bak penetasan larva.
- Hatchery ikan
Pada hatchery ikan terdapat 4 buah bak induk bandeng, 20 buah bak larva bandeng, 12 buah bak induk kerapu dan kakap dan 40 buah bak larva kerapu dan bandeng.
- Hatchery pakan buatan
Sedangkan pada hatchery yang digunakan untuk kegiatan pakan buatan terdapat 4 buah bak larva uji pakan, 4 buah bak filter air dan 1 buah bak larva.
- Hatchery manajemen kesehatan hewan aquatik
Hatchery manajemen kesehatan hewan aquatic terdiri dari 10 buah bak larva uji perekayasaan, dan 4 buah bak filter air.

3.2 Kegiatan Pembenihan Kerapu Bebek
3.2.1 Pemeliharaan induk
Induk kerapu bebek (Cromileptes altivelis) yang ada di BBPBAP Jepara ditangkap dari perairan Karimun Jawa sebagai hasil tangkapan nelayan atau pengumpul ikan hidup yang didapat dari perairan berkarang yang cukup jernih dan hasil budidaya sendiri ditambak pembesaran BBPBAP. Induk ikan kerapu Bebek yang ada di BBPBAP Jepara ini berjumlah 40 ekor yang terdiri dari 17 ekor jantan dan 23 ekor betina dengan berat masing-masing 1 – 1,7 kg. Keberhasilan suatu usaha pembenihan sangat ditentukan oleh ketersediaan induk yang cukup, baik jumlah maupun mutunya. Induk yang baik untuk pemijahan memiliki berat untuk betina lebih dari 1,0 dan jantan lebih dari 2,5 kg, sehat dan tidak cacat. Semakin berat induk, akan mempunyai gonad semakin besar sehingga produksi telurnya semakin banyak (Akbar dan Sudaryanto, 2002). Induk kerapu bebek di BBPBAP Jepara di pelihara dalam bak bulat yang berkapasitas 80 ton bak tersebut berada didalam suatu ruangan atau bangunan. Karena mengingat harga induk kerapu bebek cukup mahal yaitu Rp. 200.000 /kg. dalam bak tersebut diberikan 10 titik aerasi dan saluran pembuangan terdapat ditengah–tengah. Pergantian air dilakukan setiap hari yaitu pada pagi hari dengan cara sirkulasi yaitu ada air yang masuk dalam bak pemeliharaan dan ada air yang keluar. Pergantian air dilakukan sebanyak 200–300 % setelah itu pintu pembuangan di tutup kembali. Pembersihan bak pemeliharaan dilakukan 1 minggu sekali yang dilakukan berbarengan dengan pergantian air. Pembersiahan bak dilakukan dengan cara air diturunkan terlebih dahulu kemudian bak disikat pada dinding dan dasar bak yang licin dan sisa pakan dibuang melalui saluran pembuangan.
Pemberian pakan dilakukan dua kali sehari yaitu pada pagi dan sore hari, pakan yang diberikan yaitu ikan segar yang didapat dari TPI (Tempat Pelelangan Ikan ) yang tempatnya tidak jauh dari BBPBAP Jepara. Pemberian pakan dilakukan sekenyangnya atau secara add libitum. Jenis pakan yang digunakan yaitu ikan lemuru, ikan kerong- kerong, ikan kuniran dan cumi-cumi dll. Pakan yang tidak habis diberikan disimpan dalam Freezer karena untuk menghindari kerusakan pakan. Selain pakan juga diberikan vitamin, vitamin yang diberikan yaitu Natur E dan Egg Stimulant yang berfungsi sebagai perangsang kamatangan gonad, meningkatkan produksi telur dan menjaga kulit atau menyembuhkan kulit yang luka. Pemberian vitamin dilakukan dengan cara diberikan bersamaan pakan yang akan diberikan pada induk ikan. Vitamin dimasukan dalam pakan kemudian pakan diberikan. Menurut Wardoyo dalam Akbar (2002) vitamin E dapat memperlancar kerja fungsi-fungsi sel kelamin dengan memacu fungsi hormone gonadotropin serta meningkatkan jaringan indung telur. Pengendalian penyakit yang dilakukan di BBPBAP Jepara yaitu dengan cara induk dicuci dengan larutan H2O2 dengan dosis 1 ton air / 250 ml. induk direndam selama beberapa menit kemudian tubuh ikan digosok-gosok untuk menghilangkan jamur atau kutu yang menempel pada kulit ikan tersebut setelah selesai induk dilepas kembali dibak pemeliharaan.

3.2.2 Pemijahan induk
Pemijahan ikan kerapu bebek yang dilakukan di BBPBAP Jepara yaitu pemijahan secara alami atau dengan system manipulasi lingkungan. Induk yang dipelihara dalam bak pemijahan setiap hari dilakukan pergantian air, air diturunkan hingga 200–300 % hingga kedalaman mencapai 50 cm. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari dan diberi tambahan vitamin dalam pakan.
Pemijahan yang telah dilakukan ternyata tidak menghasilkan telur dikarenakan ada beberapa faktor yang menyebabkan induk kerapu tidak mengeluarkan telur. Faktor tersebut adalah sbb:
a. Masalah induk, induk kerapu bebek yang dipijahkan umurnya masih terlalu muda sehingga induk tidak bisa matang gonad. Walaupun terjadi matang gonad sperma yang dihasilkan induk jantan tidak bisa membuahi telur yang dihasilkan induk betina dengan sempurna sehingga kualitas telurnya jelek.
b. Masalah pakan, pakan yang diberikan pada induk tidak stabil dikarenakan pakan yang diberikan masih tergantung pada musim. Sehingga pada waktu pakan susah didapat induk kerapu tidak diberi pakan atau diberi pakan hanya 2-3 hari sekali.
c. Pematangan gonad, dikarenakan terjadi perubahan jenis kelamin dari betina menjadi jantan.
d. Kualitas air, kualitas air yang digunakan di BBPBAP Jepara tidak ditreatmen air yang digunakan air laut yang dipompa langsung dimasukan dalam bak tandon dan diendapkan beberapa hari setelah itu air yang ada ditandon langsung disalurkan pada bak pemeliharaan dan bak pemijahan. Bila terjadi kekurangan air pada bak tandon air yang digunakan pada bak pemeliharaan langsung dipompa dari laut.
e. Musim, waktu pemijahan ikan kerapu tergantung pada musim yaitu ikan kerapu akan memijah pada bulan gelap.

3.3 Pendederan
Pendederan kerapu bebek dilakukan pada bak terkendali yaitu pada bak yang berukuran 2,5 x 1,5 x 0,75 m yang berbentuk persegi panjang dan berkapasitas 20 ton yang berjumlah 8 buah. Setiap bak pendederan diberikan aerasi sebanyak 6–8 titik aerasi. Sebelum bak digunakan bak tersebut dicuci hingga bersih, pencucian bak dilakukan dengan cara bak disiram dengan air kaporit dan dibiarkan selama 12 jam kemudian dicuci dengan mengunakan sikat, setelah itu bak dibilas dengan air sampai bersih kemudian dikeringkan dan dilakukan pengisian air dan bak siap digunakan untuk pendederan. Benih yang didederkan berasal dari Situbondo dengan ukuran 2 – 3 cm, sebelum ditebar benih diadaptasikan terlebih dahulu pada bak pendederan dan dilakukan pemisahan ukuran (grading), pemilahan ukuran dimaksudkan agar benih yang ditebar berukuran seragam. Benih yang ditebar tidak seragam dikawatirkan akan terjadi persaingan makanan antara ikan yang ukurannya lebih besar dan ikan yang ukurannya lebih kecil dan pertumbuhan terhambat serta mengurangi terjadinya kanibalisme. Benih dipelihara dalam bak pendederan selama 3–4 bulan. Pemeliharaan benih selama 3-4 bulan menghasilkan benih yang berukuran 7-9 cm. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari yaitu pagi dan sore hari, pemberian pakan dilakukan secara add libitum atau sekenyangnya sampai ikan tidak mau makan. Jenis pakan yang digunakan yaitu ikan segar (kuniran, lemuru, kerong-kerong, juwi dan cumi-cumi serta udang jambret). Sebelum pakan diberikan pakan terlebih dahulu dicacah atau digunting disesuaikan dengan bukaan mulut benih ikan. Pengelolaan kualitas air dilakukan dengan cara pergantian air sebanyak 200 % perhari secara sirkulasi. Pergantian air dilakukan setiap pagi dan sore hari setelah benih selesai diberi pakan selain pergantian air juga dilakukan penyiponan pada dasar bak pendederan. Penyiponan dilakukan untuk membersihkan sisa-sisa pakan yang tidak termakan oleh benih yang dapat menurunkan kualitas air pada bak pendederan.
Grading dilakukan 3–4 hari sekali atau dilihat ukuran benih pada bak pendederan sudah tidak seragam. Grading dilakukan karena untuk menyeragamkan ukuran dan terjadinya persaingan makanan antara benih yang besar dan benih yang kecil sehingga pertumbuhan benih tidak terhambat dan juga untuk mengurangi kepadatan jumlah pada bak pendederan karena ukuran benihnya sudah terlalu besar. Grading dilakukan dengan cara air dalam bak pendederan dikurangi terlebih dahulu hingga ¼ bagian dari volume awal. Kemudian benih diserok dengan menggunakan seser dan dipindah pada bak penampungan sementara untuk dilakukan grading

3.4 Panen dan pengangkutan
Panen yang dilakukan di BBPBAP Jepara ini yaitu panen selektif, panen dilakukan pada benih yang berukuran lebih besar yaitu sekitar 7–9 cm atau tergantung permintaan pasar. Panen benih kerapu dilakukan dengan cara air dalam bak pendederan dikurangi atau dibuang terlebih dahulu sebanyak ¼ bagian dari volume awal. Setelah itu benih diserok dengan menggunakan seser kemudian ditampung pada bak atau fiber yang telah diisi air dan diberi aerasi yang telah dipersiapkan sebelumnya. Kemudian benih yang berada pada bak penampungan dihitung sebanyak 100 ekor dan ditaruh pada baskom yang berisi air dan aerasi dilakukan seterusnya sampai benih di dalam bak penampungan habis. Pengangkutan yang dilakukan di BBPBAP Jepara yaitu pengangkutan secara tertutup. Benih yang telah dihitung dimasukan dalam kantong plastik yang berlapis dua dan diberi air 1/3 dari volume yang telah ditentukan kemudian kantong plastik diisi oksigen murni sebanyak 2/3 volume yang telah ditentukan setelah itu kantong plastik diikat dengan karet gelang setelah diikat kantong plastik yang berisi benih dimasukan ke dalam styrofoam dan diberikan 1–2 bungkus es batu lalu styrofoam ditutup rapat dan diberi pelekat secukupnya (lakban) setelah siap benih siap diangkut ketempat tujuan.

3.5 Budidaya pakan alami
Kultur pakan alami penting dilakukan dalam suatu usaha perikanan terutama untuk pembenihan, mengingat bahwa pakan alami menjadi penentu kelangsungan hidup larva ikan. Larva ikan yang masih berukuran sangat kecil belum bisa mempergunakan (memakan) pakan buatan sebagai makanannya dan masih tergantung pada pakan alami. Untuk memenuhi pakan alami perlu dilakukan kultur pakan alami, baik berupa phytoplankton maupun zooplankton. Kultur pakan alami dilakukan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pakan alami dalam kegiatan pembenihan dan pembesaran di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau Jepara. Selain itu juga melayani apabila ada permintaan pembeli dari luar BBPBAP Jepara. Kultur murni phytoplankton dilakukan dalam laboratorium pakan alami karena untuk menjaga kemurnian kultur beberapa jenis phytoplankton yang sudah ada. Kendala – kendala yang terdapat dalam kultur murni pakan alami di laboraturium Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara adalah sering terjadinya kontaminasi dari jenis phytoplankton lain. Kontaminasi dapat terjadi dari tangan pengkultur atau alat – alat yang digunakan. Untuk mengurangi terjadinya kontaminasi tersebut dilakukan inokulasi bibit awal. Dan juga dilakukan penyaringan bibit agar phytoplankton lain tidak ikut terbawa dalam bibit yang dipakai. Selama penyaringan lingkungan harus steril maka penyaringan dilakukan dalam lab, sebelum dan sesudah melakukan penyaringan tangan harus disucihamakan dengan menggunakan alkohol.
Pelaksanaan kultur murni Spirulina sp dilakukan setiap hari, untuk menjaga agar selalu tersedia kultur tua setiap harinya, sehingga apabila ada permintaan dapat selalu tersedia dan masih tetap ada cadangan kultur di laboratorium. Kultur tua yang sudah melewati masa populasi puncaknya dan tidak terpakai biasanya dibuang agar tersedia tempat bagi kultur baru. Kultur yang jelek, misalnya kultur Spirulina sp yang terkontaminasi dengan D.salina akan segera dibuang agar tidak mengkontaminasi kultur Spirulina sp yang lainnya. Kontaminasi yang sering terjadi dalam kultur Spirulina sp adalah kontaminasi D.salina karena D.salina paling mudah hidup menyesuaikan dalam media kultur Spirulina sp. Kultur masal Chlorella sp dilakukan pada bak dengan volume 8.000–10.00 liter yang terletak pada ruangan terbuka. Sebelum dilakukan kultur bak yang akan dipergunakan terlebih dahulu dibersihkan dan dikeringkan selama satu hari kemudian diisi dengan air laut bersih sampai ketinggian 60-80 cm. dilakukan penambahan kaporit sebanyak 10 ppm untuk menghilangkan organisme yang ada didalam air laut yang akan digunakan sebagai media kultur Chlorella sp dan dilakukan penambahan Natrium thiosulfat 5 ppm untuk menghilangkan bau kaporit. Serta diberikan aerasi yang kuat. Pemupukan dilakukan dengan pupuk ZA 50 gr / 1000 liter air, TSP 30 gr / 1000 liter air, Ures 80 gr / 1000 liter air. Sebelum pupuk dimasukan dalam bak pupuk masukan dalam ember dicampur dengan air dan diaduk hingga merata setelah itu baru dimasukan dalam bak dengan menggunakan saringan santan. Penebaran bibit. Bibit Chlorella sp ditebarkan dengan kepadatan 1-2 juta/ml. sampai warna air dalam bak kultur berubah menjadi hijau. Bibit Chlorella sp dapat diambil dari stok kultur yang telah dilakukan sebelumnya dan sudah tua dan dapat dijadikan bibit dan pengalirannya dapat dilakukan dengan menggunakan pompa. Puncak pertumbuhan Chlorella sp dapat dilihat pada hari ke 3-4 dan setelah hari ke 5-6 Chlorella sp dapat dipanen.
Kultur masal Rotifera dilakukan dalam bak semen yang berukuran 4 x 2 x 1,3 m 3, sebelum pemeliharaan dilakukan persiapan bak terlebih dahulu. Bak yang sudah siap dipakai diisi dengan bibit Rotifera yang digunakan sebanyak ± setengah dari volume kultur atau sepertiga volume kultur. Dilakukan penambahan Chlorella sp sebagai makanan Rotifera setelah air dalam media kultur Rotifera kelihatan jernih (bening). Pemberian Chlorella sp sampai air media kultur Rotifera kelihatan hijau baru dihentikan. Kultur dilakukan dengan cara kultur berulang, yaitu satu kultur digunakan untuk beberapa kali panen. Panen dilakukan setiap hari sebanyak setengah volume kultur atau sesuai kebutuhan. Setelah panen dilakukan kultur ulang dengan menambahkan C.vulgaris sampai volume kultur semula. Dengan begitu kultur Rotifera dapat digunakan untuk beberapa kali panen. Kultur Rotifera diganti apabila kepadatan Rotifera mulai menurun yang ditandai dengan berkurangnya kepadatan Rotifera, jumlah jentik nyamuk dalam air banyak, semakin banyak jentik nyamuk berarti yang memakan Rotifera dalam bak pemeliharaan banyak sehingga jumlahnya berkurang. Selain itu apabila jumlah Rotifera dalam bak menurun maka air media kultur warnanya bening atau jernih. Pemanenan dilakukan dengan cara menyaring air media yang dialirkan dari saringan pembuangan air. Penyaringan dilakukan dengan mengikat saringan pada paralon pembuangan air. Saringan yang dipakai adalah saringan plankton 90 μ. Setelah disaring untuk membuang kotoran dan jentik nyamuk dilakukan penyaringan lagi dengan menggunakan saringan berukuran lebih besar. Hasil panen ditampung pada ember, untuk pengangkutan dilakukan dengan ember atau kantong plastik tergantung pada jarak pengangkutan.

4 KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari hasil kegiatan praktek kerja lapang dapat diambil kesimpulan yaitu:
- Pembenihan ikan kerapu bebek di Balai Besar Penggembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara dilakukan secara intensif dan pemijahannya dilakukan secara alami dengan memanipulasi lingkungan (suhu).
- Faktor-faktor yang mempengaruhi proses pembenihan ikan kerapu bebek adalah
pemelihan tempat, pemilihan induk, pemijahan, penanganan telur, penetasan telur, perawatan dan pemeliharaan larva, pemberian pakan alami dan pengolahan kualitas air media pemeliharaan.
- Sumber air yang digunakan berasal dari air laut yang letaknya tidak jauh dari lokasi. Untuk pembenihan dan pakan alami menggunakan air laut yang sudah di endapkan terlebih dahulu di dalam bak tandon.
- Budidaya paka alami sekala masal di lakukan dalam bak semen yang ukurannya 4 x 2 x 1,3 m sedangakan kultur murni dilakukan didalam lab.
- Pupuk yang digunakan dalam kultur masal pakan alami Rotifera sp. Dan Chlorella yaitu NPK, Urea TSP, EDTA dan ZA sedangkan untuk kultur murni Spirulina sp menggunakan Vitamin B12 dan Walne .

4.2 Saran
Dalam kegiatan pembenihan ikan kerapu bebek perlu diadakan penanganan induk yang lebih seksama, yaitu dengan memperhatikan parameter kualitas air pada bak pemeliharaan dan kualitas pakan yang diberikan.

DAFTAR PUSTAKA
Akbar, S. 2002. Meramu Pakan Ikan Kerapu Bebek Lumpur Macan Malabar. Penebar Swadaya . Jakarta.
Akbar, S dan Sudaryanto. 2002. Pembenihan dan Pembesaran Kerapu Bebek. Penebar Swadaya. Jakarta.
Cahyaningsih.S.2002. Pembenihan Kerapu Skala Rumah Tangga. Penerbit. Agromedia Pustaka. Jakarta.
Segama, K. 2001. Petunjuk Teknis Produksi Benih Ikan kerapu Bebek (Cromileptes altivelis). Balai Riset Budidaya Laut Gondol. Bali.
Surakhmad.W. 1985. Pengantar Penelitian Ilmiah. Penerbit Tarsito. Bandung.
Tridjiko.B,Selamet.K, Suwirya.D, Makatutu, Sutarman. 1997. Pematangan dan Pemijahan Kerapu Karang Dengan Manipulasi Pakan. Loka Penelitian Perikanan Pantai Gondol. Bali.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar